Banyak praktisi SEO (termasuk saya) sering terjebak pada hal-hal teknis seperti scraping meta title dengan Python, ekstraksi meta description massal, atau teknik scraping header tag. Semua itu memang penting. Tapi, ada satu hal fundamental yang sering diabaikan: arsitektur website.
Arsitektur website adalah cara bagaimana konten diorganisir, bagaimana link internal bekerja, dan bagaimana user maupun search engine bisa menelusuri semua halaman. Nah, dalam diskusi SEO biasanya ada dua pendekatan besar: flat architecture dan deep architecture.
Artikel ini akan membahas perbedaan keduanya, pengaruhnya pada UX dan SEO, plus tips praktis bagaimana merancang struktur yang sehat.
Pengertian dan Perbedaan Flat Architecture dan Deep Architecture Website
Apa itu Flat Architecture Website?
Arsitektur flat atau flat architecture adalah sebuah website dimana halaman-halaman website bisa dijangkau hanya dengan beberapa klik dari homepage (biasanya 2–3 klik). Struktur bila divisualisiakan, memiliki bentuk yang melebar.
Homepage
├── Category A
│ ├── Page 1
│ ├── Page 2
├── Category B
│ ├── Page 3
│ ├── Page 4
Lalu Apa Pengertian Deep Architecture Website?
Sementara itu, deep architecture adalah sebuah website yang dibangun dengan banyak level hierarchy yang cukup dalam, sehingga untuk menjangkau satu halaman, user atau crawler butuh klik lebih banyak.
Homepage
└── Category A
└── Subcategory A1
└── Sub-subcategory A1.1
└── Page 1
Jadi, perbedaan utamanya ada pada klik depth: seberapa dalam suatu halaman tersembunyi dalam struktur.
Kelebihan dan Kekurangan Flat Architecture Website terhadap User Experience (UX)
Struktur flat membuat user bisa cepat menemukan konten. Navigasi lebih intuitif, dan juga biasanya bounce rate yang lebih rendah.
Namun jika website dengan flat architecture ini memiliki halaman dalam jumlah masif, malah akan membuat layout navigasi terlalu crowded. Selain itu, dengan banyaknya jumlah halaman tanpa pembagian kategori dan subkategori yang mendetail, malahan akan membuat konten-konten lama susah ditemukan.
Kelebihan dan Kekurangan Deep Architecture Website terhadap UX
Deep architecture website sering membuat user menelusuri lebih dalam, sehingga time on site bisa meningkat. Tapi, itu bisa positif atau negatif tergantung konteks: apakah mereka enjoy exploring atau justru frustrasi karena sulit menemukan halaman target.
Deep architecture website ini tepat untuk website e-commerce besar atau portal berita dengan ribuan hingga jutaan artikel. Pembagian halaman berdasarkan kategori dan subkategori yang mendetail membantu user untuk menemukan konten-konten tertentu yang ingin dicari dari halaman homepage.
Tapi bukan tanpa kekurangan, bila kurang cermat pembagian halaman-halaman konten dalam kategori dan subkategori ini rawan membuat user kebingungan. Dengan jumlah halaman yang mencapai ribuan, puluhan, ratusan ribu bahkan jutaan, sangat wajar bila ada banyak halaman yang tidak mendapatkan reference internal linking alias orphan page.
Halaman tersebut tentu saja akan mengalami kendala indexing pada search engine.
Kesimpulan
Flat vs deep architecture bukan soal mana yang lebih baik secara mutlak. Semua tergantung pada:
- skala website,
- tujuan user, dan
- strategi SEO yang kamu jalankan.
Kalau websitemu masih kecil, flat lebih efektif. Kalau websitemu besar seperti e-commerce, deep dengan navigasi rapi adalah pilihan. Yang penting, jangan lupakan user: kalau mereka bingung, SEO juga akan ikut turun.




