Journey

Coming Home

April 28th, 2012

Hari ini aku melihat liputan di salah satu televisi nasional tentang “upacara penyambutan” boysband SuJu dari Korea oleh para abege-abege Indonesia. Sebenarnya ini sama sekali bukan hal yang baru. Masih segar di ingatan kita, ketika 10-15 tahun yang lalu, para abege Indonesia saat itu juga berteriak-teriak histeris menyambut kedatangan Westlife, boysband dari Irlandia.
Sebenarnya bukan masalah boysbandnya yang ingin aku angkat disini, karena hal yang sama juga terjadi pada kultur yang lain. Semisal anak-anak punk Indonesia menjadi begitu paniknya saat mengetahui The Exploited akan mengadakan konser di Indonesia, atau para penggemar progressive rock yang berapi-api membicarakan konser Dream Theater kemarin. Itu sama sekali bukan hal yang buruk, karena aku juga menggemari musik-musik dari luar negeri, tetapi ada beberapa hal yang mulai mengusikku, di lain waktu aku juga pernah melihat liputan di salah satu televisi nasional, kali ini liputan tentang jalan-jalan ke luar negeri, dan di salah satu fokus liputannya adalah mengenai sekolah karawitan (gamelan jawa) di Jerman. Hal inilah yang semakin mengusikku.

Aku juga mempunyai seorang kawan dari Slovakia, dia pernah tinggal di Semarang dalam rangka program pertukaran pelajar antar negara, dan dalam daftar “like” di facebook account-nya dia memilih “gamelan” sebagai salah satu minatnya!

Pernahkah terpikir di benak kita? Dalam kurun waktu 20-30 tahun mendatang, anak-cucu kita harus jauh-jauh pergi ke Jerman atau Slovakia demi untuk mempelajari kebudayaannya sendiri? Hanya dengan membayangkannya sedih sekali rasanya. Masih segar kan di benak kita saat tari Reog Ponorogo di-klaim sebagai kebudayaan negara tetangga kita? Padahal jelas-jelas tarian tersebut berasal dari protes seorang Adipati Wengker (sekarang Ponorogo) terhadap raja Majapahit, Prabu Brawijaya V berkaitan dengan hal masuknya budaya Islam yang secara represif mengikis sendi-sendi kehidupan masyarakat Jawa pada waktu itu. Dan ironisnya tarian protes terhadap masuknya budaya asing yang dianggap merusak, malah “dicuri” oleh orang-orang dari bangsa lain. Aku percaya hal itu bisa terus berlanjut jika kita tidak mempertahankan dan melestarikan kebudayaan kita sendiri, dan lama-lama anak-anak kita nanti tidak akan punya satupun kebudayaan yang bisa dibanggakan dari nusantara yang teramat luas ini.

Hal yang aku angkat ini bukan cerita baru, sudah banyak pejuang-pejuang kebudayaan yang membaktikan hidupnya demi melestarikan kebudayaan bangsa kita, sebut saja Djaduk Ferianto, Obin, Karinding Attack, Balawan, Damar Shashangka dan masih banyak seniman-seniman penuh totalitas mengembangkan karya-karya yang berakar dari budaya lokal yang sedang sekarat ini.

Sudah saatnya kita bangga berbaju batik produksi lokal, sudah saatnya kita memperbanyak pertunjukan wayang dan tarian daerah, sudah saatnya pelajaran gamelan masuk kurikulum sekolah, dan sudah bukan saatnya kita mencerca kultur asing yang masuk ke dalam segala sendi kehidupan kita, tetapi sudah saatnya bagi kita untuk mulai bekerja dan berkarya dengan cinta untuk melestarikan kebudayaan dan kearifan lokal yang sudah diturunkan oleh para leluhur kita yang terhormat.

Ada kata-kata bijak yang cukup menyentilku saat membaca buku Darmagandhul yang diterjemahkan dan diulas secara apik oleh Damar Shashangka, mengenai asal usul nama kota Probolinggo yang kita kenal sekarang. Menurut serat ini, nama Probolinggo berasal dari pemberian Prabhu Brawijaya V sendiri, yaitu Prabalingga artinya prabawanira wong Jawi kalingan prabawêng tôngga (kewibawaan orang Jawa terhalangi kewibawaan tetangga). Orang Jawa disini tidak hanya diperuntukkan bagi orang-orang dari suku Jawa semata, tetapi untuk seluruh orang yang ada di Nusantara tercinta ini. Dan memang semakin terbukti sekarang, bagaimana orang-orang kita di seluruh penjuru nusantara menjadi babu di tanahnya sendiri, mengagumi kebudayaan negara-negara tetangga kita, menaikkan prestige-nya dengan berlibur ke Singapura atau menyekolahkan anak-anaknya ke Malaysia dan Australia. Dengan penuh rasa bangga mengunggah foto-foto liburannya di Eropa dan Amerika di akun facebook atau instagramnya. Yang di kota besar bersedia mengantri berjam-jam demi mendapatkan blackberry murah, sedangkan yang di desa bersedia mengantri berlama-lama di gerai McDonald’s demi mendapatkan seporsi paket nasi.

Terus terang aku juga pernah mengalami masa-masa itu, masa dimana “beraroma” luar negeri adalah keren. Aku tidak menyalahkan orang-orang yang berperilaku seperti itu, karena memang kultur-kultur luar yang masuk begitu mempesona dan menyilaukan mata. Kita sekarang memang sedang “digempur” habis-habisan dari berbagai kultur asing yang merasuki nusantara ini. Dari segi agama, seni, gaya hidup, dan sebagainya kita hampir-hampir tidak menemukan corak budaya asli dari masyarakat itu. Mungkin hanya di masyarakat-masyarakat yang terisolasi dari modernitas atau sengaja mengisolasi diri saja kita bisa melihat kultur leluhur yang sudah berumur ratusan tahun. Dan ironisnya keberadaan mereka semakin terkikis oleh arus modernisasi yang menyerbu bagai gelombang tsunami.

Marilah kita bersama-sama sedikit demi sedikit kembali ke kearifan lokal yang sudah menjadi milik kita, jangan biarkan kekayaan kita ini hilang ditelan jaman.. mari kembali pulang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: