Journey

The Inner Quest

Hari masih buta ketika tiba-tiba ponselku bergetar halus di meja samping tempat tidurku. ada sebuah pesan singkat masuk dari sebuah nomor misterius,

“Cobalah untuk membabat belukar yang menghalangi jati diri, karena kadang untuk mencari jalan keluar, kita harus menjelajah lebih ke dalam.”

Selama tiga menit aku hanya menatap pesan misterius penuh makna itu. Baru kali ini aku melihat nomor itu, seharusnya kuacuhkan saja pesan aneh itu. tapi entah kenapa, pesan itu seperti punya daya magis bagiku.

Merenung, menyelam, dan jariku seperti punya pikiran sendiri, menjelma menjadi pujangga sebesar ibu jari yang melahirkan kata-kata ini,

“Bukan kadang, tapi memang seharusnya tanpa bermaksud menggurui. Kunci jawaban sudah tersirat, hati perangkat enkripsi. Maka kamu akan menemukan asalmu sendiri, bukan di suatu tempat dalam bentangan semesta”

kemudian aku tekan “SEND”. Selang beberapa menit kemudian balasan darinya masuk ke inbox-ku,

“Jawaban selalu ada di depan mata, tapi untuk hidup di dalamnya, butuh perubahan yang konstan, dimulai dari diri sendiri.”

hmm..semakin mengasyikkan, sambil tersenyum kecil jari-jariku mengetikkan ini,

“Di depan mata namun tak terlihat, karena ada di titik jatuh cahaya, terletak di ekor pelangi. Geserlah 21 derajat menuju terang.”

Tak sampai 15 menit, layar ponselku kembali berkedip tanda ada pesan masuk,

“Saat mata sudah menangkap diantara bias cahaya, kaki yang tak mau berkerjasama.Terbelenggu, tak bisa melangkah keluar zona nyaman.”

Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 02.00 AM, ingin kupaksa otakku ber-hibernasi tapi setiap mataku terpejam pikiranku semakin melakukan lompatan-lompatan liar, akhirnya kuraih telepon genggamku, kemudian cepat jariku bergerak di keypad-nya,

“Tak hanya mata, namun kelimanya sudah termanjakan. Butuh lebih dari indera untuk menangkap yg tak kasat indera.”

SEND!

“Oke, ini terakhir kali untuk malam ini.” kataku sendiri pada otak dan hatiku.

“BIP…BIP”

Secepat angin aku raih ponsel-ku,

“Hidup adalah anak panah, matahati adalah busur. Makin kuat tangan berpegang pada busur, makin jauh melesat si anak panah. Hanya matahati yang bisa menangkap keping terkecil dari zat kehidupan. Dialah sang penerjemah semua indera yang kita punya!”

“Matahati adalah busur.. Matahati adalah busur”, gumamku dalam hati. Analogi ini pernah aku katakan pada seorang temanku yang curhat beberapa hari yang lalu di kedai kopi langganku. Bagaimana mungkin dia memiliki analogi yang sama persis. Apakah dia mendengarku berbicara di hari itu? Semakin aku keras mengingatnya, semakin aku yakin bahwa saat itu aku cuma berdua saja dengan temanku itu, kedai kopi itu sepi pada hari itu. bahkan para barista-baristanya tidak pernah sekalipun terlihat berjalan di dekat kami, apalagi hingga mencuri dengar pembicaraan kami.
Lelah berusaha mencari jawaban misteri ini, aku mengetikkan balasanku padanya,

“Sudahkah kamu lihat lingkaran merah di ujung sana? Tanpa sasaran, anak panahmu hanya akan melesat terbawa angin”

Belum habis rasa heranku akan kesamaan analogi tadi, masuk lagi balasan darinya yang bersamaan dengan delivery report pesanku yang terakhir padahal pesannya kali ini adalah jawaban dari pesanku yang terakhir, bagaimana mungkin?

“Koordinat lingkaran merah sudah terbaca, bahkan sejak aku belum membuka mata. Aku hanya belum melepas anak panah. Segera semoga.”

Tak mau terus dihantui rasa penasaran, aku segera meneleponnya, berbagai pertanyaan membabi buta di otakku, tapi pertama-pertama yang ingin kutanyakan padanya adalah siapakah dia sebenarnya..

“Call Mobile..”

*Nada Tunggu*

“Nomor yang anda hubungi tidak terdaftar. Cobalah..”

Tidak terdaftar? padahal jelas-jelas kami baru saja saling berbalas pesan singkat, ataukah mungkin dia mematikannya? aku coba sekali lagi..

*Nada Tunggu*

“Nomor yang anda hubungi tidak terdaftar. Cobalah..”

Damn! Aku  harus mengetahui siapa dia sebenarnya malam ini. Harus!

“Nomor yang anda hubungi tidak terdaftar…”

…..

*******

3 tahun kemudian

Malam itu, seorang laki-laki pertengahan 30-an duduk terdiam di bangku taman kota ini. Matanya menerawang lelah, hari ini cukup menguras tenaga dan pikirannya. Pekerjaan bertumpuk-tumpuk di mejanya. Pelan dia melihat-lihat layar ponselnya, catatan hariannya, schedule kerja, pesan-pesan lama yang masih teronggok di inbox-nya.

Kemudian matanya terpaku pada pesan yang diterimanya 3 tahun lalu, dari sebuah nomor misterius, pesan yang ditujukan kepada nomor telepon lamanya. Sebelum dia berganti nomornya yang sekarang karena ada beberapa teror dari orang-orang yang iri akan kecemerlangan karirnya.

“Cobalah untuk membabat belukar yang menghalangi jati diri, karena kadang untuk mencari jalan keluar, kita harus menjelajah lebih ke dalam.”

Jarinya kemudian bergerak ingin menghapus pesan itu, sampai kemudian dia terpaku pada nomor pengirim misterius itu. Nomor si pengirim itu tampak familiar, sangat familiar bahkan karena itu nomornya sendiri! nomor barunya saat ini! dan kemudian sepucuk kesadaran melesat di dadanya.

Jarinya bergetar mencari menu forward message, kemudian dia mengetikkan nomor lamanya, nomor teleponnya 3 tahun yang lalu di kolom nomor tujuan.

SEND

Message Sent

3 menit kemudian pesan balasan masuk di inboxnya,

“Bukan kadang, tapi memang seharusnya tanpa bermaksud menggurui. Kunci jawaban sudah tersirat, hati perangkat enkripsi. Maka kamu akan menemukan asalmu sendiri, bukan di suatu tempat dalam bentangan semesta”

Laki-laki itu tersenyum kecil…

*******

Disadur dari twit berbalas antara aku dengan Ine Mahendra

pic source: www.goodshepherdcleaning.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: