Journey

(Not) A Simple Wedding

Kemarin malam aku baru pulang dari acara akad nikah teman kantorku. Acaranya cukup sederhana, karena hanya akad yang dilakukan di rumah dari pihak mempelai lelaki, dan dihadiri oleh kerabat-kerabat dekat saja.

IMG00288-20110523-2045.jpg

Walau terkesan sederhana tanpa dekorasi yang “wah” acaranya berlangsung cukup sakral, dan aku begitu salut dengan temanku ini.

Dia mempersiapkan hampir segala sesuatunya sendirian, karena kedua orang tuanya sudah tidak ada lagi. Dia mempersiapkan segala sesuatunya, dengan banyaknya rintangan yg dia temui, terharu juga rasanya akhirnya dia bisa melangsungkan pernikahan dengan segala kesederhanaan yang dia miliki. Aku benar-benar merasa bersyukur, keadaanku jauh lebih baik daripadanya.

Terlepas dari seperti apa acara pernikahannya, yang lebih penting adalah bagaimana kita mengarungi bersama istri/suami kita setelahnya. Tak akan ada artinya menyelenggarakan pesta yang mewah, bila setelahnya kita malah dipusingkan dengan hutang yang menumpuk karena gengsi kita demi sebuah pesta semalam yang mewah. Esensi dan kualitas dari sebuah rumah tangga tidak ditentukan dari mewah tidaknya pesta pernikahan kita. Tetapi bagaimana nantinya kita membentuk keluarga kita, menjadi keluarga yang penuh kasih sayang, dan kenyamanan. Bagaimana kita menjadikan rumah sederhana kita, menjadi tempat perlindungan terbaik, menjadi tempat kebahagiaan sejati.

Selamat menempuh hidup baru Mas Santok dan Mbak Nita, semoga keluarga kalian menjadi keluarga sejati, tempat kebahagiaan dan kasih sayang sejati. :’)

2 komentar

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: